Sabtu, 18 Januari 2014

SEMU

SEMU

Aku diam menatap wajah semu yang semakin hilang. Benakku mengingat jalan, sawah dan pohon-pohon yang setiap detailnya menceritakan sesuatu. Tak hilang wajah manis yang selalu kecut ketika menatap diriku, dari raut wajahnya saja dapat ku tebak ia bergerutu. Langkahnya dipercepat ketika mendapatiku berjalan di belakangnya. “Sudahlah, jangan ikuti aku lagi! Di sana banyak wanita-wanita cantik” katanya menunjuk ke arah lain. Wajahnya masih sama, tak melirikku sedikit pun.
Hari dengan cepat berlalu, tak membuat keadaanku berubah. Tetap saja, wajah manis itu selalu kecut kepadaku. Tak pernah menatap wajahku sedikit pun. Ia hanya membuang muka, setiap aku mencoba mendekatinya. Selalu menjawab dengan nada enggan, setiap aku berbicara padanya. Hingga suatu saat, entah karena hal apa, sikapnya berubah padaku. Si wajah manis mulai peduli padaku, tersenyum padaku. Ku pikir “Dia mulai membuka hati untukku”.
Senja yang tenang, kudapati kado istimewa yang sudah bertahun-tahun ku nanti. Bukan dari kuis yang diundi di televisi dengan hostnya yang bagiku cukup cantik. Tapi ini luar biasa. Wajah manis yang dulu semu bergerak menampakan garis-garisnya yang tidak akan aku lupa sampai kapanpun. Mata yang berbinar, hidung yang ingin aku sentuh, bibir yang basah dan memerah. Kado yang sungguh luar biasa. “Aku menyayangimu!” Kurasa aku sudah terbang dari tadi, sejak ku dengar ia lontarkan kata itu. Yah, aku berhasil memilikinya sekarang. Setelah bertahun-tahun menunggu dengan sikapnya yang acuh padaku.
Malam ini yang tak seperti biasa. Dulu selalu sepi, kelam, gelap. Kini mulai redup, remang, yang kemudian berubah terang oleh wajah manis yang tak lagi semu. Kudapati ia mendekat, menggelitikku di belakang telinga. Mendesah, menyanyikan lagu yang benar-benar membuatku terbang, tinggi menembus awan-awan putih. Membuaiku lembut, mengecup bibirku, jantungku membatu sejenak oleh perlakuannya. Ia mendorongku. “Ahhh..” mataku terbuka, rupanya aku bermimpi. Ku terjaga, jantungku masih berdetak kencang. Ku mencoba mengatur nafasku, akibat mimpi yang luar biasa. “Mimpi yang indah!” Gumanku.
Air yang dingin. Ku usap-usap rambutku yang masih basah. Aku sandarkan bahuku di atas sofa di depan jendela. Ku memandang keluar. Hari masih gelap, langit masih hitam bertabur bintang. Membentuk wajah manis yang tersenyum penuh arti. “Ah, dia lagi!” bisikku. Ku lempar pandanganku ke tembok kusam ruanganku. Kudapati sosoknya tersenyum memperlihakan kedua lesung pipinya. Di dalam bingkai biru, memperindah ruangan yang kusam ini. “Dia memang cantik!” Tertawa aku melihat tingkahku sendiri. Seperti kata Johan, teman sebangku yang terkenal play boy itu, kalau aku sudah gila. Ya! memang aku tergila-gila oleh sosok berwajah manis itu, Entah sejak kapan. Tapi sudah lama aku mengenalnya.
Waktu yang kulalui kini terasa mudah. Setiap waktu, aku mengajak si wajah manis itu bercerita. Bercerita kepada jalan-jalan yang kita lalui, bercerita kepada sawah-sawah, bahkan pepohonan ikut mendengarkan cerita kami. “Aku tak menyangka, aku bisa menatapmu seperti ini.” Kata si wajah manis sembari mendekatkan wajahnya yang indah ke wajahku. Aku hanya membisu, terpesona dengan garis-garis wajah yang begitu elok. Aku tak menyangka, aku begitu mengaguminya. Ku rasakan getaran dari ujung kepala sampai ujung kaki ketika ia melempar senyumnya. Karena, sungguh! Wajah itu begitu dekat denganku. “Hei! Kenapa diam? Kau terpesona?” Ia bertanya, setelah beberapa saat aku tak menanggapi perkataannya tadi. Aku hanya tersenyum, mataku yang berbicara padanya.
Kuhitung setiap waktu yang kulalui bersama si wajah manis itu. Kalenderku tahun ini telah penuh dengan coret-coretan tentang apa yang telah ku jalani dengannya. Rupanya sudah setahun ku jalani hubungan istimewa ini.
Jam di kamarku terus berputar. Detikan jam itu begitu terasa. Waktu yang berlalu tak pernah kusayangkan. Karena hariku selalu indah oleh wajah manis itu. Mungkin kalian bertanya, siapa wajah manis itu? Dan mengapa aku selalu menyebutnya?. Aku hanya dapat menjawab “Dia adalah orang pertama yang aku kagumi, dan dia sangat manis.”
Ini hari minggu. Tepatnya minggu sore. Si wajah manis itu terlihat berbeda, bukan wajahnya yang berbeda, ia tetap saja berwajah manis tak ada yang berubah. Hanya saja sikapnya padaku. Ku rasa ia mulai menjauhiku. Aku tak pernah tahu alasan apa yang membuat si wajah manis itu berubah. Sampai suatu saat. “Aku bosan denganmu!” kata-kata itu yang terucap dari bibirnya yang cantik. Nada itu tak asing bagiku, dia mulai tak peduli lagi padaku. Namun, tak masalah. Asal dia tetap menjadi milikku, dan aku masih dapat melihat wajahnya.
Akhirnya hujan deras mengguyur senjaku. Menggores tubuhku dengan percikan-percikan air yang halus tapi menyakitkan. Aku seperti mati melihat wajah manis itu dijamah oleh laki-laki lain. “Siapa kamu? Aku sudah bahagia dengan Afril. Tolong jangan ganggu aku lagi! Jangan ikuti aku lagi!” Kata-kata yang menusukku bagai belati yang panjang dan tajam. Mengorek semua isi hatiku keluar. Akal ku hilang! Kupukul diriku sendiri. Ku berteriak-teriak sendiri. Tak peduli orang-orang berlalu menatapku heran. Ingin aku bunuh laki-laki yang mengambil wajah manis itu. Dia sahabatku sendiri. Aaaaa! Tuhan, aku tak pernah sehancur ini. Aku kehilangan dia, wajah manis yang pernah sejenak tersenyum padaku. laki-laki itu mengambilnya paksa. Semua jalan-jalan, sawah-sawah, pohon-pohon itu, saksi ceritaku kini menjadi bisu. Bungkam, tak membantuku menuntut agar wajah manis itu mau kembali lagi padaku.
Hari-hari kembali gelap, setelah sejenak saja terang oleh hadirnya sosok wanita yang sungguh aku cintai. Aku kembali membeku, di dalam kesunyian yang luar biasa menyiksaku. Batinku kembali terusik, melihat wajah manis yang ku kagumi sekian tahun tertawa lepas manatap laki-laki keji yang merebut belahan hidupku itu. Aku memang laki-laki. Tapi, sudah begitu hancurnya aku sampai tak sanggup ku bendung air mata ini lagi. Aku ingin mati! Ya, aku ingin mati saja. Aku berlari melawan arus mobil-mobil yang menjerit, menggerutu, karena ku halangi lajunya. Sampai akhirnya, kakek tua itu menyeretku paksa ke tepi.
“Kau jangan gila hanya karena wanita!” Ia menghakimiku. “Hahaha, aku memang gila! hey, bapak tua tahu apa kau tentang urusanku.” Aku menceloteh tanpa aku pikirkan kata-kata yang ku lontarkan. Aku tak peduli. “Sungguh kau laki-laki bodoh! Kalau kau mati, wanita itu tak akan jadi milikmu. Dia malah senang tak ada yang mengganggunya lagi.” Kucerna kata-kata orang tua itu. Ada benarnya. Tiba-tiba, akal ku muncul lagi. Tapi kali ini benar-benar busuk. Aku tak peduli.

Ku langkahkan kakiku, kupercepat. Hingga sampai aku di suatu ruang, ruang yang akan menjadikanku api yang ganas. Kutarik wanita manis itu dari laki-laki yang mencumbunya dari tadi. Ia marah, menghujatku, menggerutu, mengejek. Tak kupedulikan. Ku dorong laki-laki itu, ku pukuli wajahnya yang keji hingga dia pingsan, atau malah tak bernyawa. Aku malah senang.
Sementara, wanita manis itu meronta-ronta, berteriak “Kau jahat!” Aku hanya tersenyum. Ku dorong ia ke tembok, dimana posisinya menghadapku. Ku tatap dalam-dalam matanya yang bening dan mulai berair. Ku usap lembut, “Jangan menangis sayang, kamu akan bahagia bersamaku.” Kataku. Kupeluk tubuhnya yang terus meronta dan berteriak. “Lepaskan!” Semakin manis saja dirimu ketika kau marah. Mungkin kali ini aku sudah tak waras lagi. Dia mendorongku. Tapi, aku sempat meraih tubuhnya lagi. “Maafkan aku Kian! Aku tak bisa kehilanganmu. Aku mencintaimu.” Ku ucapkan kata-kata itu sebelum aku benar-benar menusukkan logam tajam yang sedari tadi ku genggam ke perutnya. Kulihat ia menahan sakit, wajahnya pucat, air matanya masih mengalir. Ku lepaskan tubuhnya yang terhempas jatuh ke lantai. Ku berlutut, menatapnya untuk yang terakhir kali. Ku cium keningnya, pipinya dan bibirnya. Mungkin aku benar-benar kejam. Tapi aku tak peduli, aku tak bisa kehilangannya.
Ku cabut logam yang berlumuran benda merah itu. Ku hunuskan ke perutku sendiri. Ku peluk tubuhnya yang sudah kaku di sampingku, dan kali ini aku benar-benar telah membawanya pergi. Tak ada laki-laki lain yang akan merebutnya dariku lagi. Semoga dia tidak membenciku nanti.
Kabar kota ramai dengan berita ku. Kakek tua yang menarikku dari mobil-mobil itu, tersenyum sinis membaca berita kegilaanku. Aku sudah pergi jauh dari dunia yang tak akan menyatukanku dengan orang yang aku cintai. Dan aku berhasil membawanya pergi jauh. Di sini kami bisa bersama, membangun keluarga, mempunyai anak yang lucu-lucu, seperti cerita kami kepada jalan-jalan, sawah-sawah dan pohon-pohon itu.
Cinta memang sudah membuatku gila! Wanita berwajah semu yang dulu selalu hadir dalam setiap mimpiku. Menghias setiap sudut pandangku. telah menjadi milikku selamanya. Walau tak seindah hidup di dunia. Kerena disini semuanya kembali semu, aku pun menjadi semu.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar