Sabtu, 18 Januari 2014

JERITAN MALAM

JERITAN MALAM

Malam semakin pekat.Kegelapan yang menyelimuti malam di Kampung Gandaria membuai kehidupan dalam kesunyian yang dalam.Semilir angin yang berhembus mengantarkan sang Dewi Malam ke dalam tapuk penguasa malam. Kabut malam di langit, menenggelamkan sang rembulan dan bintang ke dalam selimut kepekatan.
“Aaaaaa…!!!”
Terdengar suara jeritan perempuan yang memecahkan keheningan malam. Suara jeritan perempuan itu begitu kerasnya dan menggema ke seluruh pelosok kampung yang cuma berisi puluhan rumah saja.

Dennis pemuda kampung yang malam ini sedang mendapat jatah tugas ronda, segera berlari ke arah asal suara itu bersama teman rondanya sambil memukul kentongan. Dennis pemuda yang baru seminggu menikah dengan gadis kampung pujaannya, Livina, tampak sangat cemas dengan jeritan suara ini yang seperti mengarah pada rumah mertuanya tempat ia dan istrinya tinggal.
Suara kentongan yang saling bersaut membuat penduduk kampung Gandaria terbangun dari tidurnya dan semua beranjak ke luar rumah melihat situasi. Kehidupan mendadak muncul kembali malam ini di kampung Gandaria gara-gara jeritan seorang wanita.
Malam ini Malam Selasa Kliwon. Malam dimana seluruh penduduk Kampung Gandaria yang berjenis kelamin laki-laki sibuk berjaga dan meronda. Sudah tiga bulan lamanya tiap malam Selasa Kliwon penduduk Kampung Gandaria diteror oleh manusia yang cuma bercawet belel. Manusia bercawet belel ini meneror rumah-rumah penduduk dengan mencuri barang berharga tanpa diketahui tuan rumah yang tertidur pulas. Yang lebih mengerikan terutama bagi kaum wanita, manusia bercawet memiliki sifat c*bul. Makhluk ini doyan sekali meniduri istri-istri para penduduk kampung dan sialnya para suami mereka sering tidak tahu kalau istri mereka mengalami pelecehan oleh manusia bercawat ini.
Suara jeritan perempuan tadi terus menerus terdengar, Dennis semakin yakin bahwa suara jeritan itu berasal dari rumah mertuanya. Dennis sadar suara perempuan yang menjerit-jerit adalah suara istrinya, Livina dan adik kandungnya Rachel. Malam ini hanya mereka berdua yang tinggal di rumah sementara mertuanya pergi menginapa di rumah famili.
Dennis berlari sangat cepat mendahului rekan-rekannya. Rasa cemas yang sangat, membuat pengantin baru ini berusaha secepat mungkin sampai di rumah mertuanya. Dennis tak ingin istri dan adiknya menjadi korban kec*bulan manusia bercawat belel.
Sampai di rumah mertuanya masih terdengar juga suara dua orang perempuan yang saling menjerit-jerit.
“Livina, buka pintunya!” Kata Dennis sambil menggedor-gedor pintu depan rumah.
Bukannya
membuka pintu depan, Livina dan Rachel malah semakin keras jeritannya. Dennis menduga bahwa simanusia cawet belel telah berada di dalam rumahnya.Karenanya Dennis segera mencongkel pintu dengan tongkat besi yang biasa ia bawa jika meronda.
Pintu depan berhasil terbuka. Dennis dengancepatnyalangsungmasukkedalamruangkamartidurdimanaiamelihatistridanadiknyasalingberpelukansambilmenjerit-jeritketakutan.
“Manamakhlukbercawetitu?” Kata Dennis sambilmenghunuskantongkatbesinya.
“Dia..dia..dia…” Kata Livinaterbata-batasangkingketakutannyasambilmenunjukkearahranjangtidur.
Dennis tertegunbegitumelihatmakhluk yang berada di atasranjangtidur.
“Pantassajamerekaberduamenjerit-jeritketakutan” Kata Dennis dalamhatinya.

Mahkluk itu berkumis panjang tapi hanya beberapa helai saja. Mulutnya agak kepanjangan, telinganya lebar dan bulat. Meski tubuh mahkluk itu mungil, namun ia memiliki ekor yang panjang. Makhluk itu memang benar-benar mahluk yang menjijikan dan terus menerus giginya mengerat-ngerat papan kayu ranjang.
Mahluk
menjijikan yang membuat dua perempuan muda menjerit-jerit itu mendadak bersuara begitu melihat Dennis.
“Cit..Cit… Cit..Cit…”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar