Minggu, 04 Mei 2014

sistem komputer (curhatan)


JURUSAN
SISTEM KOMPUTER
UNIVERSITAS GUNADARMA

Kalau selintas dipikirkan jurusan sistem komputer itu menyenangkan dan tidak telalu rumit...benar! waktu baru pengenalan awal saya belum menemukan kesulitan . tapi sebulan berjalannya waktu  barulah terasa..hmm saya terkejut dan seperti tak sanggup menjalani materi perkuliahan ini. Tak pernah terbayangkan sebelumnya akan mempelajari ilmu yang rasanya bagiku begitu super duper sulit.
Bagaiman tidak...! setiap praktikum pasti ada saja tugas yang masa pengerjaannya bisa menghabiskan waktu tidurku semalaman (lebay dikit hehe) kadang itupun tak bisa terselesaikan dengan sempurna...awalnya tubuhnpun ikut protes karna kurang istirahat. Tapi dengan berjalannya waktu 1 semester pertama dapat terselesaikan dengan IP yang pas – pasan..hikss!!! tapi ya, tetap tidak membuatku menyerah dan membuat tekad untuk kedepan harus lebih baik, serius dan lebih giat lagi.
Tak terasa sekarang saya sudah semester 6 dan bersiap untuk mengerjakan Penulisan Ilmiah..Alhamdulillah semua dapat dijalani dengan lancar berkat dukungan teman – teman yang solid dan tak pelit ilmu. Semoga Penulisan ilmiah ini dapat berjalan dengan lancar dan saya bisa lulus tepat waktu, Amiiin. 


KOLAM LUMBA – LUMBA


KOLAM
LUMBA – LUMBA







Untuk mahasiswa yang mengikuti perkuliahan di Universitas Gunadarma, terutama yang bertempat di Kampus J1, Bekasi pastilah tidak asing lagi dengan kolam yang berada di depan pintu utama Universitas Gunadarma.
Namanya juga tradisi, itulah yang harus saya terima dan rasakan hari itu, harus merasakan dingin dan kotornya air kolam lumba – lumba yang berada didepan pintu utama tersebut. “ DOLPHIN “ itulah nama bekennya hehe.
Tradisi yaah...sudah tradisi bagi setiap mahasiswa yang lagi berulang tahun  pasti merasakannya, di gotong beramai – ramai dan dilemparkan ke kolam itu bahkan banyak yang tak sengaja ikut tercebur kedalamnya.

Dengan tradisi dan fenomena konyol ini kita dapat menyimpan memori perkuliahan dengan sedikit hal-hal konyol, tak melulu tentang belajar. Mempererat hubungan pertemanan itu sudah pasti, dan memaksimalkan manfaat dari kolam tersebut, tidak hanya dari segi keindahan, karena bisa menjadi sarana mengerjai teman :)

Minggu, 06 April 2014

PEMAKAI

PEMAKAI

Menghamba pada keinginannya sendiri, di peralat oleh ke khawatiran, melarikan diri dan membelakangi kenyataan. Dasar para pemakai! Dengan bangganya ia berbuat salah, betapa salah membanggakannya. Ia ingin kebebasan tetapi selalu di kalahkan. Maka tidak ada yang lebih indah dari fantasi menurutnya.

Lehernya dirantai oleh pergaulan, cara pandangnya belum jinak dan kebaikannya adalah racun. Senyumnya adalah kemirisan, tawanya adalah kejanggalan. Ia tertipu, lalu menipu, kedustaan telah memadamkan sinar matanya.

Sadarilah bahwa pelarian hidup tidak memenangkan apa-apa !


Selama tidak merusak otak, selama tidak menggeser iman, selama tidak mengurung jiwa, selama tidak menindas hati, selama tidak memilih mati, apapun asalkan juaranya. Karna bila harus menjatuhkan lututmu, bila harus mencoreng wajahmu, bisa harus menundukan kepalamu, aku pikir apapun asal tidak tergoncang jati dirimu!

KITA LELAH

KITA LELAH

Bila aku menang, bila aku berhasil, bila lemariku penuh dengan piala dan brankasku sudah tidak muat di isi uang, aku masih tidak begitu senang, sebab semua itu tidak senikmat di marahi kamu. Sekarang berbeda. Mungkin aku tidak setegas kamu menegur aku saat aku menegur diri sendiri.

Aku tidak bisa mati dengan menahan nafas, demikian tak lupa dengan menahan sesal. Aku sedah banyak membaca buku, aku sudah menelan air laut berkali-kali, aku membunuh nyamuk, tetapi masih saja kamu yang aku cinta. Entah siapa-siapa saja yang sudah bosan mendengar ini, mungkin tinggal cermin saja yang masih semangat.


Bila kita harus berakhir, biat Tuhan saja yang ketuk palunua. Bukan mereka yang sudah marah, atau kita yang sudah lelah. Atau jika aku mati lebih dulu. Kamu boleh menangis dan melihat orang yang kamu cinta adalah manusia seratus persen. Aku bukan malaikat, bukan Tuhan, tetapi bukan setan yang mencelakakan, melainkan cinta yang tersimpan.

SEMOGA TIDAK KAMU LAGI

SEMOGA TIDAK KAMU LAGI

Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia. Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia, melainkan karna bukan aku yang membahagiakanmu. Itu menyakitkan, seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk. Supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan, sehingga doa dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku bangkit.


Namun ketahuilah sebelum aku sudah tidak lagi ada untukmu, ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu mengelilingi tubuh dan jantungku berdenting demi kau menari nari di pikiranku. Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bahagia menjadi aku, itu karna aku mampu terima kamu apa adanua. Aku meminta ampun kepada Tuhan, sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempaskanku hilang dari ingatmu, aku tidak ingin pernah lagi menginjak bumi. Sebab hidup jadi terasa bagaikan dinding yang dingin. Aku harus menjadi paku, sebab kamu bagai lkukisan dan cinta itu sebagai palu. Memukil aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.

Sabtu, 18 Januari 2014

T’LAH KEMBALI

T’LAH KEMBALI


Pertama kali aku jatuh cinta dulu waktu umur 12 tahun. Waktu itu rasanya masih terlalu cepat untuk anak seumuranku mengenal cinta. Pada umur 12 tahun itu pula, aku pertama kali mengenal kata pacaran. Sebut saja dia cinta pertama sekaligus pacar pertama untukku. Karena namanya anak-anak, pacarannya juga seolah main-main dan kekanak-kanakan. Tapi perasaan itu seakan masih membekas sampai sekarang. Kenangan kebersamaannya juga seakan masih teringat jelas. Aku pikir itu bukan cinta biasa.
Sekarang umurku belum baru akan menginjak 17 tahun pada bulan mei 2014 nanti. Lima tahun lebih berlalu semenjak itu. Hubungan yang dijalin itu memang telah berakhir hampir 3 atau 4 tahunan yang lalu, saat aku dan dia memutuskan berpisah. Waktu saat kami mulai sama-sama memasuki bangku SMA. Pemikiran yang dewasa memang saat aku berpikir bahwa aku tidak begitu lagi mencintainya.
Ternyata perpisahan waktu itu bukan pilihan yang tepat. Tanpa kusadari di hatiku masih ada dia, entah itu karena aku melihatnya setiap hari atau apa tapi bisa jadi karena kami masih satu sekolah. Mungkin karena tidak terlalu besarnya cintaku padanya, aku pun seolah acuh pada hatiku yang mengatakan aku masih mencintainya. Dan aku pun menjalin hubungan dengan seseorang, seseorang yang pada akhirnya membuat aku menunggu sangat lama, seseorang yang seolah mempermainkan aku dan seseorang yang membuat aku menyesal telah mengabaikan perasaan bahwa aku masih mencintainya, cinta pertamaku. Tidak tidak, itu bukan sebuah penyesalan yang pantas disesali.
Dan untuk ketiga kalinya, aku kembali menjalin hubungan. Aku seperti menjadi orang jahat waktu bersamanya, selalu melakukan tindakan sesukaku. Huh, aku seolah melampiaskan perasaanku pada orang ini. Tapi mengapa dia teramat baik untuk itu? Apakah bila aku kembali memutuskannya, dia akan baik-baik saja? Aku hanya tak ingin kembali menyakitinya oleh karena sifatku yang seperti ini. Mungkin memang aku aneh, tapi dibalik itu semua aku menyayanginya.
Aku tidak terlalu mempercayai itu cinta. Aku mungkin seorang yang kesepian, seorang yang hanya bisa memendam semuanya sendiri. Bagaimana dengan orang yang kusebut sahabat? Berpikir mereka memiliki masalahnya masing-masing, itu tak masalah jika aku tidak begitu mau berbagi masalahku.
Hari-hariku ku jalani dengan selalu berharap bahwa esok akan lebih baik. Selalu berusaha menunjukkan bahwa hidupku tidak memiliki masalah dan aku orang yang paling bahagia di dunia ini serasa melelahkan. Semuanya kebohongan. Saat hatiku merasa lelah dengan semua ini, saat itu pula aku selalu merindukannya. Dia yang biasanya menyandarkan bahunya untukku saat aku merasa sedih. Dimana dia saat ini? Mengapa aku terlambat menyadari bahwa dia teramat berarti untukku.
Otakku menjadi bingung saat aku memikirkan mengapa aku bersedih saat aku mengetahui dia sudah memiliki kekasih baru dan sangat senang jika suatu hari dia berpisah dengan kekasihnya itu. Ada apa denganku? Padahal jelas-jelas aku mengatakan aku tidak begitu menyukainya lagi. Tapi mengapa saat dia menatapku, hatiku seolah masih bergetar? Dia, cinta pertamaku, mengapa sekarang dia menjadikan aku orang yang egois? Aku hanya ingin dia mencintaiku, aku hanya ingin hanya aku di hidupnya padahal cintaku sendiri tidak sepenuhnya untuknya, hatiku bahkan sekarang seolah mengatakan aku mencintai orang lain. Tapi mengapa dia seolah abadi dalam hatiku ini?
Hingga suatu saat orang lain yang kucintai itu memilih pergi meninggalkanku. Aku merasa sedih, hatiku seolah hancur. Orang lain itu mengapa seenaknya untuk datang pergi, mengapa orang lain itu selalu menghancurkan hatiku dan kemudian memperbaikinya. Dan mengapa orang lain itu seperti telah menjadikan aku orang yang sangat mencintainya. Tidak, orang lain itu bukan menjadi orang lain lagi, orang lain itu telah menjadi orang yang penting di hidupku. Otakku tidak begitu hebat untuk bisa mengerti hati, bahkan tentang perasaan ini masih sulit dimengerti. Saat aku mengatakan aku mencintainya, tapi hatiku juga menegaskan bahwa di sisi lain nama cinta pertamaku itu masih belum hilang. Oh Tuhan, mengapa saat hatiku hancur karena orang lain itu, Kau malah mengirimkan dia “cinta pertamaku” untuk menghiburku.
Dia kembali mengatakan bahwa dia masih mencintaiku. Kata-kata itu seperti menjadi alasan aku tersenyum namun tidak begitu ku indahkan. Aku buat dia menunggu, padahal aku tau jawaban hatiku yang tak bisa menerimanya lagi. Ya, sampai suatu saat orang lain yang begitu aku cinta itu datang kembali. Entah karena aku bodoh atau apa, aku menyambutnya dengan penuh senyuman dan kebahagiaan. Aku meninggalkan dia “cinta pertamaku” karena orang lain tanpa berpikir apa yang akan terjadi padanya. Tapi dia tidak pernah bosan datang dan datang lagi kepadaku dan aku pun selalu menolaknya.
Hingga suatu ketika dia datang lagi tapi bukan untuk mengatakan “dia mencintaiku” melainkan orang lain. Dadaku terasa sesak saat itu dan hatiku seakan sakit. Bagaimana mungkin aku seperti? Mengapa aku begitu egois. Tidak selamanya dia akan selalu mencintaiku, tidak selamanya dia rela menunggu. Aku hanya bisa menahan tangis dan mengatakan “Berbahagialah. Aku tau suatu saat nanti kamu pasti menemukan orang yang lebih dari aku”. Dia hanya membalas dengan senyum, dan aku melanjutkan dalam hati “Tapi bisakah walaupun kau mencintai orang lain saat ini, aku akan selalu ada di hatimu itu dan selalu abadi disitu”.
kini perasaan itu muncul lagi, mungkin karena kita masih satu sekolah dan otomatis setiap hari bertemu. entah apa yang aku rasakan saat ini apakah benar aku masih membutuhkannya atau hanya perasaan sementara yang muncul di hatiku dan menjadi pengobat hati untukku. sampai sekarang aku masih bertanya-tanya tentang perasaanku kepadanya. ya sebenarnya aku tahu kalau dia tidak akan bisa lagi kembali untukku. namun apa daya semua terjadi begitu saja…


TERIMAKASIH ATAS HIDUP YANG SINGKAT INI

TERIMAKASIH ATAS HIDUP YANG SINGKAT INI


Namaku Ayudia Lestari Lebih akrab dipanggil Ayu. Aku duduk di bangku kelas 7, di SMP Nusa Bakti. Aku mempunyai 5 orang sahabat yang sangat aku sayang yaitu Diah, Sari, Dewi, Wiwi dan Rina.
Hidupku ini sangat rumit. Mengapa? Kedua orangtuaku berpisah dengan alasan tak jelas. Aku tinggal bersama Mama, yang akhir-akhir ini jarang memperhatikanku akibat pekerjaannya. Juga bersama Bik Wati, pembantu rumahku. Dan aku mengidap penyakit kanker darah atau leukemia. Saat Papa dan Mama masih bersama, mereka membawaku ke dokter untuk operasi. Papa dan Mama rela menghabiskan uangnya untuk menyembuhkan penyakitku. Tapi, kanker ini sudah stadium 4, artinya sudah parah. Mereka akhirnya pasrah, dan kemudian berpisah.
Aku sedih. Kadang aku berfikir untuk tidak mau hidup di dunia ini. Tapi, aku selalu ingat pesan Oma agar tetap tabah menghadapi cobaan di dunia ini.
Senin pagi, upacara bendera dilaksanakan. Sebelum upacara, Diah melarangku mengikuti upacara sebab aku sering tidak enak badan bahkan pingsan saat mengikuti upacara. Tapi, aku bersikeras untuk ikut. Aku tak suka meninggalkan kegiatan yang berhubungan dengan negara, seperti upacara. Diah pasrah saja dan menuruti kemauanku.
Suasana upacara kali ini cukup panas, karena matahari bersinar dengan terik. Saat kepala sekolah menyampaikan amanat, kepalaku mulai pusing. Tapi, aku tetap mendengarkan amanat kepala sekolah, dan menyembunyikan rasa pusing itu. Tapi kepalaku makin sakit. Mukaku mulai pucat. Tangan kakiku dingin.
“Ayu, kamu tidak apa-apa? Mukamu pucat.” kata Diah. “Aku tidak apa-apa Diah” kataku berbohong. Kemudian, perasaanku tidak enak. Pandanganku kabur. Semuanya gelap.

Saat kubuka mataku, aku sudah ada di atas ranjang UKS. Berarti, aku tadi pingsan. Terulang lagi.
“Alhamdulillah, Ayu kamu sudah sadar” kata Rina sambil tersenyum. “Sudah kukatakan kan Yu, kamu tidak usah ikut upacara. Tapi kamu tetap ikut. Begini kan hasilnya?” kata Diah dengan nada sedikit kesal. “Diah! Jangan begitu dengan Ayu! Dia baru saja pingsan!” tegur Rina.

Aku terdiam. Aku menatap langit-langit UKS. Kemudian, aku menitikkan air mataku. “Eh Ayu, kenapa nangis? Tuh Diah, Ayu kan jadi nangis!” tanya Rina sambil mengambil tisu. “Hah? Aku kasar ya Yu? Maaf ya?” kata Diah. “Ini bukan salahmu kok Di. Salahku sendiri tidak mau mendengarmu” jawabku sambil mengelap air mata di pipiku.
“Ya sudah, Ayu sekarang kamu tidur saja ya. Aku dan Diah akan menemani kamu disini.” kata Rina lembut. “Tapi nanti kalian ketinggalan pelajaran?” tanyaku padanya. “Tidak apa. Sari, Dewi dan Wiwi bisa memberitahu kita tentang pelajaran jam sekarang. Mending, kamu tidur aja ya Yu” kata Diah. “Baiklah kalau begitu” jawabku, lalu kemudian tertidur.

Dalam tidurku, aku bermimpi. Bermimpi bertemu dengan omaku. Di mimpiku, aku memeluk oma dengan rasa sayang. Omaku memanggilku untuk tinggal bersamanya. Aku tersenyum sambil mengangguk.
Tiba-tiba aku terbangun. Di sekitarku sudah ada kelima sahabatku yaitu Diah, Sari, Wiwi, Dewi dan Rina. Sudah jam istirahat rupanya, jadi mereka menjengukku.
“Hai Ayu, sudah bangun rupanya. Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah membaik?” tanya Wiwi. “Ya Alhamdulillah sudah membaik kok” jawabku tersenyum. Aku bangun untuk duduk.
“Teman-teman, tadi aku bermimpi. Aku bertemu dengan omaku. Dan omaku memanggilku untuk bersamanya dan di mimpiku, aku mengangguk. Itu pertanda apa?” tanyaku pada sahabatku. Mereka saling memandang. Kemudian, Dewi berkata “Mungkin kamu rindu dengan omamu Yu. Dan terbawa ke dalam mimpi”. “Oh, begitu” jawabku.

KRIIINNGG!!! Bel masuk berbunyi. Aku dan kelima sahabatku menuju kelas. Aku tak ingin ketinggalan banyak pelajaran. Di kelas, teman-temanku yang lain banyak bertanya padaku tentang keadaanku. Aku menjawab, aku telah baikan. Tak lama kemudian, Bu Risma, guru Matematika datang dan memulai pelajaran.
Tepat pukul 12.30, bel pulang berbunyi. Semua murid SMP Nusa Bakti berhamburan keluar kelas untuk pulang ke rumah masing-masing. Begitu pula aku. Di depan kelas, aku menunggu sahabatku. Tak lama, mereka pun datang.
“Yuk pulang!” ajak Dewi. “Aku bareng siapa pulangnya?” tanyaku. “Aku juga” tanya Sari. “Begini saja, kan aku, Rina dan Wiwi bawa motor. Aku barengan sama Ayu, Rina sama Sari dan Wiwi sama Diah. Gimana?” jelas Dewi. “Setuju!!!” kataku serempak dengan sahabat-sahabatku. “Oke, let’s go home!” seru Dewi.

Kami berenam pun pulang naik motor dibonceng oleh pasangan berbonceng masing-masing. Di perjalanan, aku sedikit takut karena takut ditilang polisi. Tapi untung saja saat tiba di rumahku, tidak terjadi apa-apa.
Di rumah, Bik Wati menyambutku. Aku menceritakan tentang tadi di sekolah. Juga tentang mimpiku. Saat mempertanyakan pertanda dari mimpiku, Bik Wati menjawab sama dengan jawaban Dewi. Tapi, aku masih tak yakin dengan jawaban itu.
Saat masuk ke kamar, aku langsung mengganti baju.
Kemudian, seperti biasanya, aku menulis di buku harian alias diaryku.
Senin, 27 Februari 2012
Dear Diary

Hari ini, aku kembali pingsan. Pasti karena penyakitku ini. Kenapa sih aku harus diberi penyakit? Aku tidak suka melihat orangtuaku yang dulu telah berusaha keras mencari cara agar penyakitku bisa sembuh, tapi hasilnya tetap sia-sia. Dan aku tau, pasti alasan mereka berpisah karena capek mengurusiku. Ya kan?
Apalagi Mama sekarang jarang memperhatikanku. Sehari saja, aku hanya bertemu 2 jam. Sungguh tak enak. Aku ingin Mama ada di sampingku menemaniku dan mendengarkan semua curhatku.
Aku berfirasat kalau umurku sudah tak lama lagi. Baguslah kalau begitu, aku tidak akan sedih lagi menghadapi hidup ini. Tapi bagaimana dengan sahabatku? Duh, aku bingung sekali!
Diary, kalau misalkan besok aku sudah tiada, bisikkan pada Tuhan ya agar Mama bisa membaca curhatan hatiku. Dan bisikkan pada Tuhan agar Papa dan Mama bertemu.

Ayudia Lestari
Malam harinya, kubuka buku diaryku. Aku membaca semua curhatan hatiku. Bila membaca hal-hal yang membuatku sedih, aku menangis. Rasanya, ini adalah terakhir kalinya aku membuka dan membaca diaryku ini. Apakah benar, aku akan pergi meninggalkan dunia ini? Aku tak tau. Aku segera terlelap dengan buku diary yang ada di tanganku.
Keesokan harinya, pukul setengah enam pagi, aku bangun dengan air mata di pipiku. Aneh sekali. Segera kuhapus dengan tisu yang ada di meja dekat ranjang. Aku kemudian segera mengambil air wudhu untuk shalat Subuh. Setelah itu, aku menunaikan shalat subuh. Setelah selesai shalat, aku turun untuk menemui Bik Wati.
“Pagi Bik!” sapaku lemas pada Bik Wati. “Pagi juga Non Ayu!” balas Bik Wati. Tiba-tiba, kurasakan sesuatu mengalir dari hidungku. Kusentuh hidungku. Darah! Aku mimisan lagi. Tak lama, kurasakan hal yang aneh, seperti ingin pingsan.
“Non Ayu! Mimisan lagi. Mukanya Non juga pucat. Non Ayu nggak apa-apa?” tanyanya sambil mengambil tisu. Aku tak menjawab karena semua kurasa berkunang-kunang, kemudian gelap.
Aku membuka mata. Di sekeliling, ada seorang dokter, dua suster, Papa, Mama, Bik Wati serta lima sahabatku. Di hidungku ada selang oksigen, dan di punggung tanganku ada jarum berbalut perban dengan selang yang menyambungkan cairan dari sebuah benda. Mereka menyembunyikan wajah sedih mereka. Aku tersenyum pucat. Dokter dan kedua suster lega, dan kemudian meninggalkan ruangan.
“Semuanya, aku minta maaf kalau buat susah kalian. Aku memang gak berguna. Kerjanya cuma bikin orang susah!” kataku sambil menitikkan air mata. “Ssst! Kamu tidak boleh berkata begitu sayang!” kata Mama dengan mata berkaca-kaca. “Pa, Ma, aku pengen Papa dan Mama itu bersatu kembali. Aku nggak suka kalau Papa dan Mama pisah” kataku. “Kalau Ayu mau Papa sama Mama bersatu lagi, Papa mau saja” jawab Papa. “Ya, Mama juga mau” jawab Mama. Aku kembali tersenyum.
“Diah, Sari, Dewi, Wiwi dan Rina. Maaf kalau aku selalu bikin kalian ketinggalan pelajaran, cuma gara-gara ngurusin aku kalau aku pingsan di sekolah” kataku pada sahabatku. “Ah, enggak kok Yu. Kita nggak papa kok ketinggalan pelajaran.
Kan bisa belajar dari teman-teman yang lain” jawab Rina. “Iya Yu. Gak papa kok!” kata Wiwi sambil tersenyum.
“Semuanya, aku rasa, sekarang waktunya aku pergi nyusul Oma di surga sana.” kataku. “Ayu sayang, kamu ngomong apa sih? Jangan ngomong macam-macam sayang!” kata Papa sambil menitikkan air mata. “Enggak Pa! Aku sudah ditunggu Oma. Dan Tuhan, terima kasih sudah sempat memberiku hidup. Mempertemukanku dengan Papa, Mama dan sahabatku yang baik. Semuanya, jaga diri baik-baik ya! Daah!” kataku.

Aku kemudian menutup mata dan menghembuskan nafas terakhir. Roh ku kemudian meninggalkan tubuhku yang kini tidak bergerak lagi. Semua di ruangan itu menangis atas kepergianku. Papa dan Mama memeluk tubuhku yang kini sudah kosong. Aku sedih melihat mereka tapi aku sudah dipanggil Tuhan. Aku pun pergi menuju surga menemui Tuhan. Selamat tinggal semuanya. Kutunggu kalian di surge.